Bumi yang kita huni makin tua dan semakin sakit. Tapi sejauh mana kesadaran kita bahwa bumi sedang dalam proses menuju ’kematiannya’? Tentunya ini tak lepas dari tanggung jawab manusia, hendak dikemanakan bumi ini, kesejahteraan atau kerusakan? Dimana letak kesalahan manusia terhadap bumi? Kajian ini berusaha mengkaji kondisi kerusakan di bumi dari aspek peradaban.
Hantu Peradaban Barat
Manusia secara fitrah, adalah makhluk hasil Kun Fayakuun Allah yang termulia dibandingkan makhluk Allah lainnya. Dan dengan akal yang ada, kemampuan manusia untuk menelurkan kreativitasnya hingga apa yang kita sebut dengan teknologi adalah wujud kejeniusan manusia di zamannya. Kemajuan teknologi yang diindikasikan dengan hasil dari berbagai temuan manusia menandakan sebuah peradaban-peradaban baru mulai bermunculan. Hal ini pula yang tak dapat disangkal bahwa manusia dengan segala keterbatasnnya, dengan izin Allah diperkenankan mencari sarana-sarana pelengkap dalam kehidupannya.
Namun, seharusnya kita juga harus mampu mengevaluasi perkembangan peradaban itu sendiri, apakah benar-benar ditujukan terhadap kesejahteraan manusianya? Benarkah antara penggunaan alat dalam peradaban itu sendiri sudah sejalan dengan tujuannya?
Revolusi industrialisasi di Eropa dimulai dengan hasil temuan manusia akan mesin uap yang ditemukan oleh James Watt sebagai hasil penyempurnaan terhadap mesin uap buatan Newcomen. Maka tak salah, seorang Michael H. Hart dalam bukunya yang berjudul 100 Tokoh Yang paling Berpengaruh Dalam Sejarah menempatkan James Watt sebagai orang yang berperan dalam sejarah pada urutan ke-25. Ini tak lain menurutnya lagi, bahwa Revolusi Industri yang lahir karena diawali dengan lahirnya mesin uap itu seakan digariskan mempunyai makna jauh lebih penting untuk peri kehidupan manusia ketimbang arti penting revolusi politik, seperti Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis. Dengan inovasi mesin uap tersebut, maka pabrik-pabrik berbasis tenaga mesin menggantikan posisi pabrik tradisional yang awalnya murni menggunakan energi manusia. Inovasi-inovasi ini berbanding lurus dengan kemajuan peradaban dan teknologi di Eropa. Namun, disayangkan kemajuan ini tidak diikuti rumus perbandingan lurus dengan hasrat ’mensejahterakan’ manusianya. Dari akumulasi sejarah tersebut, revolusi industri secara cepat melahirkan banyak paham yang bersumber pada hasrat menguasai. Itulah yang bisa dinamakan Evolusi Akhlak dan Moral. Produk integralnya paham ini berlanjut apa yang dinamakan dengan paham-paham Kapitalisme dengan konsep-konsep Imperialisme dan Kolonialisme. Tools untuk meng-goal-kan konsep-konsep pada zaman imperialisme konvensional ini tak lain apa yang disebut dengan penjajahan, penguasaan paksa negara penganut imperialis terhadap negara jajahannya, sedangkan yang paling meresahkan adalah imperialisme modern yang melibatkan serangan multidimensi dari imperialisme kebudayaan hingga orientalisme.
Islam berbicara Peradaban
Dalam QS Al-Baqarah : 208, Allah berfirman, "Hai orang-orang yang berfiman masuklah kedalam as-silmi (Islam) secara keseluruhan." As-silmi dimaknakan oleh Prof. M. Quraish Shihab sebagai kedamaian atau Islam dengan makna dasar damai atau tidak menganggu. Sehingga artinya orang-orang yang beriman diminta untuk memasukkan totalitas dirinya ke dalam wadah itu secara menyeluruh, sehingga semua kegiatannya berada dalam wadah atau koridor kedamaian. Ayat ini juga bermakna masuklah kamu semua kaffah tanpa kecuali, jangan seorangpun di antara kamu yang tidak masuk ke dalam kedamaian/Islam.
Ini yang menunjukkan bahwa, Islam memiliki sifat izzah yang menjamin seluruh aktivitas kehidupan berada dalam rel kedamaian, selama ada keyakinan dan proses untuk mengikuti ajaran Islam secara kaffah. Apapun bentuk aktivitas kehidupan yang dilakukan adalah sebagai wujud cintanya kepada Islam, cintanya kepada Allah dan cintanya kepada Rasulnya.
Ini pula yang membedakan bentuk peradaban yang diinginkan oleh Islam. Dan ini pula yang menyababkan kaum muslimin, memandang setiap hasil temuan manusia, teknologi yang dikembangkan merupakan perihal tanda-tanda kebesaran Allah dalam ayat-ayat kauniahnya. Kemurahan Allah ini dijadikan kaum muslimin yang bertakwa sebagai sarana dalam beribadah kepada Allah.
’Siaran Langsung Pertandingan’ Antar Peradaban
Perbedaan ideologi, nilai-nilai yang dikembangkan, prinsip-prinsip dalam hidup hingga akhirnya menjadi rangkaian sebuah peradaban menjadikan dasar-dasar konflik antar peradaban. Pertarungan ini dimulai semenjak peradaban komunisme runtuh dengan paham Marxime/Leninisme/Stalinisme yang menghujamkan paham komunis sebagai paham yang diletakkan pada tatanan sistem pemerintahan negara, seperti yang didoktrinkan penguasa-penguasa beraliran sosialis di Sovyet. Setelah terjadi kemunduran hingga proses kehancuran terhadap peradaban komunis yang notabenenya adalah musuh bersama peradaban Islam dan Barat, menyisakan dua peradaban yang yang akhirnya masing-masing mendeklarasikan peradaban yang lain sebagai musuh bagi peradaban lainnya.
Peradaban Barat sangat memicu metode-metode legalisasi seluruh tindakan tanpa melihat tingkat kebenarannya. Peradaban ini juga dilahirkan dengan kembar identiknya bersama peradaban kafir. Penguasaan sepenuhnya terhadap sesuatu hal menurut penganut paham kapitalis merupakan jalan satu-satunya pemenuhan tindak kerakusan mereka, tindakan pencarian keuntungan sebanyak-banyaknya. Semanagt untuk saling menghargai dan persaudaraan sesama manusia sudah mereka sepelekan. Ini seperti dalam firman Allah,: "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? (QS. Muhammad : 22). Lihat saja kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh sebuah paham kapitalis. Eksplorasi alam tanpa henti dan tanpa adab dengan bermunculannya perusahaan-perusahaan tambang Amerika, yang kasusnya juga teradi di Indonesia menujukkan keberhasilan mereka mengimperialis negara lain dengan tanpa sadar negara yang diimperialis dirugikan karena kerusakan terhadap alam adalah dampak yang tak dapat dihindari. Belum lagi dampak polusi dimana negara-negara maju sebagai kontributor pemanasan global sangat bertanggung jawab penuh terhadap isu perubahan iklim.
Ajaran-ajaran kapitalis, demokrasi, imperialis, dan terakhir zionis yang merupakan salah satu konflik terhebat sepanjang sejarah terbukti menyengsarakan umat manusianya. Ini tentunya tak lepas dari lembaran historis yang tertuliskan dalam Perang Dunia I dan Perang Dunia II, yang menimbulkan korban jiwa dan problematika klasik pasca perang bagi negara-negara peserta. Peradaban perang adalah salah satu nama lain yang bisa disepadankan dengan Peradaban Barat. Pengaruhnya tidak hanya berada pada pasca perang Dunia, tetapi melahirkan tradisi merusak lingkungan dan merusak keseimbangan alam.
Sistem yang tak kalah hebatnya sebagai buah karya peradaban kafir adalah sistem ekonomi yang berbasis ribawiyah. Sistem riba tidak akan pernah disatukan dengan orang-orang beriman yang beramal saleh. Seperti yang diperingatkan Allah dalam QS Al-Baqarah: 278, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. Janji Allah bersifat pasti, karena Dia-lah yang berkehendak terhadap segala kondisi yang ada. Termasuk bagi orang-orang yang melakukan riba, itu artinya mereka adalah orang-orang tidak percaya kepada Allah dan janji-janji-Nya. Dan bila ini terjadi, maka Allah akan memerangi mereka. Dilanjutkan dengan ayat 279: "Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya." Itulah janji Allah yang sangat melaknat sistem riba. Dia dan Rasul-Nya akan memerangi pelaku riba. Coba kita bayangkan, bukan sekedar manusia yang akan memerangi pelaku riba, namun Allah yang akan membuktikan bagaimana riba dengan segala sistem dan lembaganya akan dihancurkan oleh Allah, Naudzubillah. Krisis moneter yang menggejala di banyak negara bisa jadi adalah bentuk azab Allah terhadap negara yang mempraktekkan riba. Krisis ini tidak akan pernah berakhir selama mereka tidak mempercayai riba sebagai bagian dari laknat Allah. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menapaki klimaks kehancuran karena mengundang kemurkaan Allah di muka bumi. Rasulullah bersabda, "Apabila telah terang-terangan zina dan riba di suatu negeri, maka mereka telah mengharamkan siksa Allah pada diri mereka. " (HR. Thabrani dan hakim dari Ibnu Abbas As-Suyuthi)
Bila kita telaah, peradaban kafir sangat menyalahi bahkan tidak akan pernah beriringan dengan peradaban Islam. Karena itu hanya Islam yang akan menyelamatkan dunia dari azab Allah. Tidak akan pernah ada percampuran antara yang haq (peradaban Islam) dan yang bathil (peradaban Barat). Karena itu Allah dan Rasulullah telah mengingatkan untuk selalu berpegang teguh pada agama Allah dan jangan sekali-kali mengikuti metode-metode kafir. Rasulullah bersabda, "Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia dari (golongan) mereka. (HR Abu dawud dari Ibnu Umar; HR. Thabraani dari Hudzaifah). Dan bila itu terjadi, sudah tiadak ada hijab ataupun yang disebut dinding al wala’ wal- bara’ antara iman dan kufur, sunnah dan bid’ah ahlak yang mulia dan ahlak yang rusak ataupun peradaban Islam dengan peradaban kafir, maka akan terjadi kerusakan yang besar di muka bumi. Seperti yang difirmankan Allah, "Jika kamu (hai para muslim) tidak melaksanakanNya (Al-wala’ wal bara’ atau menyayangi muslim dan memusuhi kekafiran karena Allah), niscaya akan terjadi kekacauaan di muka bumi dan kerusakan yang besar. " (QS Al-Anfal:720). Hadits lain yang menerangkan bahwa praktek kafir akan menimbulkan kerusakan di bumi dan berupa bencana alam, Imron bin Husein meriwayatkan dari Rasulullah, beliau bersabda: “Pada ummat ini akan terjadi tanah longsor, perubahan bentuk muka dan kerusuhan. Lalu ada seorang dari kaum muslimin bertanya: ‘Wahai Rasulullah kapankah terjadinya hal itu?’ Beliau menjawab: apabila disana-sini telah banyak biduan (penyanyi) dan alat-alat musik serta khamar yang sudah biasa diminum”. (Shahih Jami’ush Shagir 4/103 No. 4119 oleh Al-Albani). Perkara kafir yang dimaksud selain tiga perkara pada hadits di atas harus disiasati keberadaannya. Perkara kafir yang tanpa kita sadari atau sudah kita sadari kehadirannya namun kita sepelekan, adalah yang bersifat imperialisme kebudayaan. Apa yang kita kenal dengan Fashion, Food dan Fun adalah komoditi yang sangat susah dibendung alirannya. Terutama yang pada kategori Fashion dan Fun. Berbagai pengaruh busana Barat yang tidak mencerminkan konsep busana yang Islami atau berpakaian tapi hakikatnya telanjang semakin dianggap biasa oleh bangsa Timur, termasuk Indonesia. Dan Fun, yang hadir di banyak media-media. Seperti tayangan yang berbasis nilai kekafiran dan budaya Barat, atau yang paling marak adalah menjamurnya barang-barang akses tinggi di situs-situs porno di internet. Kondisi tumbukan antar peradaban akan terus terjadi karena ini sangat jelas, peradaban Barat tidak akan memberikan ruang khusus dalam perkembangan peradaban Islam dan sebaliknya peradaban Islam sangat memusuhi nilai-nilai yang dikembangkan peradaban Barat terutama dalam hal menghindarkan bumi dari kerusakan dan kekacauan di bumi.
Gerakan Penyembuhan
Sangat mutlak hukumnya bagi kaum Muslimin yang muttaqin dan sangat takut akan azab Allah serta terjadinya kerusakan di bumi, menginginkan syariat Islam kokoh berdiri dalam aturan-aturannya. Dan metode penyembuhan satu-satunya adalah meninggalkan segala macam penyebab kerusakan yang ada di bumi.
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitabnya Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah menyebutkan bahwa termasuk sebagai golongan yang selamat jika mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan yang Selamat selalu mengajak manusia berhukum pada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia dan di akhirat. Tanda-tanda golongan yang selamat menurut Syaikh bin Abdul Aziz bin Baz yang dikutip dari kitab yang sama, “Mereka adalah orang-orang salaf dan setiap orang yang mengikuti jalan para salafush shalih (Rasulullah, para sahabat dan setiap orang yang mengikuti jalan petunjuk mereka).“Hukum-hukum-Nya abadi sepanjang masa dan relevan bagi penghuni bumi. Sehingga bila ada hukum lain selain yang digariskan oleh Allah kita adopsi seperti yang terjadi pada peradaban Barat maka kesengsaraan dunia dan kerusakan dimana-mana adalah kondisi yang tidak dapat dihindari.
Telah kita ketahui bersama, bahwa riba adalah kasus dalam Al-Quran yang diungkapkan dengan jelas bahwa hal itu adalah yang dilaknat Allah dan Allah berjanji akan memerangi para pelaku riba. Bagaimana halnya jika kita yang telah paham dan sadar namun masih mengaplikasikannya dan terakumulasi dalam suatu sistem ekonomi ribawiyah yang kemudian digunakan negara dalam mengelola perekonomian negaranya, bukankah itu suatu ’undangan’ untuk menghadirkan azab Allah? Oleh karena itu dari saat ini, kita sebagai kaum muslimin mulai beralih dari pelaku riba menjadi pelaku ekonomi syariah dengan meninggalkan transaksi di perbankan non syariah.
Strategi yang tak kalah pentingnya, berhati-hatilah dalam mencerna budaya-budaya kafir. Budaya berpakaian harus disesuaikan dengan perintah Allah mengenai menutup aurat yang benar sesuai syar’i, dan itu tidak dapat ditawar tata caranya. Pengaruh media dengan segala variasi penyampaian dan materinya termasuk langkah yang diterapkan kaum Barat untuk merusak akidah umat harus dihindari kehadirannya. Semoga dengan kembalinya umat Muslim ke Manhaj Kalamullah dapat merubah keadaan kaum dari kerusakan-kerusakan di bumi.
Penulis : Abu Khosyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar